Contoh RPP dan Modul Ajar Seni Teater Kelas 1 SD Tahun Ajaran 2025–2026 Semester 1

Modul Ajar dan RPP Seni Teater untuk Kelas 1 SD Semester 1 Tahun Ajaran 2025/2026

Pada tahun ajaran 2025/2026, tersedia contoh modul ajar dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) seni teater kelas 1 Sekolah Dasar (SD) yang dirancang untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Modul ini disusun dengan pendekatan yang menyenangkan dan kreatif, sehingga mampu memfasilitasi pengembangan ekspresi, imajinasi, serta kerja sama siswa melalui permainan peran yang sederhana namun kontekstual.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran berdasarkan modul ini, peserta didik diharapkan dapat:
– Mengenal dasar-dasar teater seperti tokoh, dialog, dan ekspresi.
– Memerankan tokoh sederhana dalam cerita anak-anak.
– Mengekspresikan emosi melalui mimik wajah, gerak tubuh, dan suara.
– Bekerja sama dalam kelompok untuk menampilkan drama pendek.

Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran dalam modul mencakup beberapa topik penting, antara lain:
– Pengenalan Teater: Apa itu teater?
– Ekspresi Wajah dan Gerakan Tubuh
– Dialog dan Intonasi Suara
– Latihan Peran dan Simulasi
– Pementasan Drama Mini

Metode Pembelajaran

Modul ini menggunakan metode pembelajaran aktif dan interaktif, seperti:
– Ceramah Interaktif
– Demonstrasi
– Bermain Peran (Role Play)
– Tanya Jawab
– Diskusi Kelompok

Selain itu, model pembelajaran yang digunakan meliputi:
– Discovery Learning
– Project-Based Learning (PBL)
– Bermain Sambil Belajar

Media dan Sumber Belajar

Beberapa media dan sumber belajar yang direkomendasikan adalah:
– Buku paket Seni Budaya kelas 1
– Boneka tangan/sifat karakter
– Video cerita anak
– Cermin (untuk latihan ekspresi)
– Properti sederhana: topi, jubah, tongkat, dll.

Asesmen

Asesmen dalam modul ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
Asesmen Formatif:
– Pengamatan ekspresi dan gerak saat latihan
– Menjawab pertanyaan lisan terkait isi cerita
– Mampu mengikuti alur peran dalam simulasi
Asesmen Sumatif:
– Pementasan drama kelompok
– Penilaian berdasarkan ekspresi, intonasi, kerja sama

Alur Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang dalam tiga tahap utama:

1. Pendahuluan (10 menit)

  • Salam pembuka
  • Ice breaking
  • Menyanyikan lagu pembuka
  • Apersepsi tentang cerita rakyat

2. Kegiatan Inti (60 menit)

  • Guru memperkenalkan unsur-unsur teater
  • Mencontohkan ekspresi, gerakan, dan suara tokoh
  • Siswa mencoba bermain peran dalam kelompok

3. Penutup (20 menit)

  • Refleksi kegiatan hari itu
  • Tanya jawab
  • Memberi motivasi dan tugas rumah (membuat topeng karakter)

Proyek Mandiri

Sebagai bagian dari pembelajaran mandiri, siswa diberikan tugas rumah untuk membuat topeng karakter cerita favorit bersama orang tua. Bahan yang dapat digunakan antara lain kertas, pewarna, dan tali.

Contoh RPP Seni Teater Kelas 1 SD

Berikut adalah contoh RPP untuk mata pelajaran Seni Budaya (Seni Teater) di kelas 1 SD semester ganjil tahun ajaran 2025/2026:

I. Tujuan Pembelajaran

  • Siswa dapat mengenal peran dan tokoh dalam cerita sederhana.
  • Siswa dapat menampilkan ekspresi wajah sesuai perasaan tokoh.
  • Siswa dapat memerankan tokoh sederhana dalam kelompok kecil.

II. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

A. Pendahuluan (10 Menit)
  • Guru membuka pembelajaran dengan salam dan lagu anak-anak.
  • Apersepsi: Menonton video cerita anak “Si Kancil dan Buaya”.
  • Diskusi singkat tentang tokoh-tokoh dalam cerita.
B. Kegiatan Inti (60 Menit)
  • Menjelaskan unsur teater (tokoh, ekspresi, suara).
  • Siswa mencoba menirukan ekspresi sedih, senang, marah.
  • Guru membagi siswa menjadi kelompok kecil.
  • Setiap kelompok memerankan cerita pendek.
  • Saling memberi umpan balik sederhana antarkelompok.
C. Penutup (20 Menit)
  • Refleksi kegiatan (Apa yang paling menyenangkan hari ini?)
  • Memberi tugas membuat topeng karakter di rumah.
  • Menyanyikan lagu penutup bersama-sama.

III. Penilaian

| Aspek | Indikator | Skor (1-4) |
|————-|————————————|————|
| Ekspresi | Mimik wajah sesuai tokoh | 1-4 |
| Suara | Intonasi dan volume sesuai karakter| 1-4 |
| Gerak | Gerakan mendukung cerita | 1-4 |
| Kolaborasi | Kerja sama dalam kelompok | 1-4 |

IV. Penguatan Profil Pelajar Pancasila

  • Gotong Royong: melalui kerja kelompok
  • Kreatif: menampilkan tokoh secara ekspresif
  • Mandiri: tugas membuat topeng di rumah

Modul ajar dan RPP ini siap mendukung kegiatan belajar mengajar pada semester ganjil tahun pelajaran 2025/2026. Dengan dilengkapinya tugas proyek, penilaian formatif, dan kegiatan kolaboratif, pembelajaran seni budaya akan lebih hidup dan menarik bagi siswa usia dini.

48 Tahun HAEI: Berharap Jadi Pilar Utama SDM Teknologi Nasional

Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) merayakan ulang tahun ke-48 dengan penuh semangat dan harapan baru. Perayaan yang berlangsung secara hibrida ini mengusung tema “48 Tahun HAEI Turut Mengembangkan Kompetensi dengan Mengikuti Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)”. Acara dilangsungkan di Hotel Bidakara, Jakarta, dan dihadiri oleh para pendiri, Dewan Kehormatan, seluruh pengurus, serta anggota organisasi.

Dalam rangkaian perayaan tersebut, HAEI juga menyelenggarakan seminar dengan berbagai topik menarik serta pameran yang menampilkan stand dari berbagai perusahaan. Sebagai bagian dari upaya memperluas jaringan dan meningkatkan kualitas anggota, sekretariat HAEI mendirikan stand khusus untuk melayani pendaftaran anggota baru, registrasi ulang anggota, serta pengurusan Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Konstruksi tingkat 7 hingga 9.

Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari pemerintah, antara lain:

  • Dewi Chomistriana, Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, selaku Ketua Komite Keandalan Bangunan Gedung.
  • Dian Irawati, Direktur Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan Ditjen Cipta Karya.
  • Riky Aditya Nazir, Kasubdit Kompetensi Tenaga Kerja Konstruksi, Ditjen Bina Konstruksi, Kementerian PU.
  • Taufik Widjoyono, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK).

Perayaan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan refleksi prestasi, tetapi juga sarana untuk berbagi kebahagiaan. Dalam suasana penuh kebersamaan, HAEI mengundang anak-anak yatim dan dhuafa dari berbagai latar belakang agama untuk ikut dalam acara ini. Selain itu, panitia juga memberikan berbagai hadiah doorprize kepada peserta yang hadir.

Pembukaan acara ditandai dengan pertunjukan Tari Nusantara yang menggambarkan keberagaman budaya Indonesia. Tarian ini memiliki makna simbolis bahwa HAEI lahir dari keberagaman tenaga ahli elektro di seluruh Nusantara, namun bersatu dalam satu semangat: Bersatu untuk Kemajuan Indonesia.

Seremoni utama dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum HAEI, Achmad Sutowo Sutopo, didampingi oleh Dirjen Cipta Karya, Dewi Chomistriana. Dalam sambutannya, Sutowo menyampaikan rasa syukur atas pencapaian HAEI selama 48 tahun.

“Kami bersyukur atas usia 48 tahun HAEI. Mari bersama-sama memohon agar HAEI selalu diberikan keberhasilan, mendapatkan akreditasi dari LPJK Kementerian Pekerjaan Umum, seluruh anggota HAEI semakin berkembang, diberikan keberkahan, organisasi ini menjadi lebih baik lagi serta dapat memberikan manfaat bagi anggota, masyarakat, dan bangsa,” ujarnya saat membuka acara pada Jumat (4/7/2025).

Sejarah HAEI sendiri telah dimulai sejak 26 Februari 1977 di Bandung. Organisasi ini resmi disahkan pada 30 Juni 1997 sebagai wadah bagi para ahli elektro di Indonesia. Awalnya dipimpin oleh tokoh-tokoh inspiratif seperti Moeljadi Sastra Soebrata sebagai Ketua Umum, beserta tim pendiri yang terdiri dari Soedibjono, Djauhari, Daniel Mangindaan, Koernaen, Nuraini Udaya, dan beberapa anggota penting seperti Djuhana Djukardi, Arifin Panigoro, Gunarno, dan Lohiral.

Pada Musyawarah Nasional HAEI tanggal 27 April 2005, nama organisasi ini disesuaikan menjadi Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI), seiring dengan perkembangan definisi dan cakupan ilmu elektro. Salah satu pendiri, Daniel Mangindaan, serta Zainal Walidin turut hadir dalam perayaan ini dan memberikan kesaksian awal mula berdirinya organisasi profesi ini.

Zainal Walidin menjelaskan bahwa ide pembentukan HAEI mulai digagas pada 25 November 1976 melalui diskusi-diskusi untuk meningkatkan profesionalisme para insinyur elektro dalam pembangunan nasional. Sejak itu, HAEI terus melakukan regenerasi kepengurusan dengan baik hingga mencapai usia 48 tahun.

Menurut Sutowo, HAEI dibangun berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan kode etik profesi. Hal ini menjadi fondasi kuat bagi organisasi untuk terus memperkuat peran teknologi dan sumber daya manusia dalam pembangunan nasional.

“Kini, di usia ke-48 tahun, HAEI telah menjadi rumah besar bagi lebih dari 1.100 tenaga ahli elektro di seluruh Indonesia. Dan melalui perayaan ulang tahun HAEI yang ke-48 tahun ini, kita tidak hanya merayakan usia, tetapi juga mengenang dedikasi para pendiri, meneguhkan tekad untuk terus berkontribusi, dan menyulam harapan untuk masa depan HAEI,” tegas Sutowo.

Dalam sambutannya, Dewi Chomistriana menekankan relevansi tema HUT HAEI dengan tuntutan transformasi digital dan keberlanjutan pembangunan modern yang tidak lepas dari ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurutnya, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah menetapkan regulasi untuk menjamin kualitas bangunan gedung, salah satunya diatur dalam PP No. 16/2021 dan aturan turunannya. Regulasi tersebut mencakup beberapa aspek penting:

  1. Aspek Keselamatan dan Kenyamanan: Termasuk persyaratan laik fungsi bangunan, khususnya terkait keselamatan bahaya petir dan kelistrikan yang sangat berpengaruh terhadap keselamatan jiwa dan bangunan itu sendiri.
  2. Keberlanjutan Gedung Hijau: Target efisiensi energi, air, material, serta pengurangan emisi karbon.
  3. Gedung Cerdas Berbasis Teknologi Tinggi: Mendorong penerapan otomatisasi dan sistem manajemen bangunan terintegrasi.

Dewi juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada HAEI dan berharap agar organisasi terus maju, inklusif, dan menjadi bagian penting dalam kemajuan bangsa.

“Usia 48 sudah matang, dilalui melalui proses panjang. Pencapaian selama 48 tahun ini tentu tidak hanya menandai eksistensi HAEI, tetapi juga mencerminkan kontribusi nyata dalam pembangunan infrastruktur nasional. Kami berharap agar HAEI semakin maju, inklusif, dan menjadi bagian penting bagi kemajuan bangsa,” tuturnya dengan penuh apresiasi.

TOP 7 Destinasi Desa Wisata Unggulan di Jawa Timur: Liburan Edukatif yang Seru dan Menarik, Pilihan Tahun 2025


jasa SEO seoyandira.com –

– Liburan ke desa wisata kini jadi tren yang makin diminati, apalagi di Jawa Timur yang punya beragam destinasi edukatif, alami, dan budaya. Tak hanya menyuguhkan pemandangan indah, desa-desa ini juga menawarkan pengalaman belajar langsung dari kehidupan masyarakat lokal.

Cocok banget buat kamu yang ingin healing sambil menambah wawasan dan mengenal tradisi lokal yang unik.

Tahun 2025 ini, ada tujuh desa wisata terbaik di Jawa Timur yang sukses mencuri perhatian. Mulai dari yang berbasis sejarah hingga desa dengan wisata bunga abadi, semuanya punya keunggulan tersendiri. Yuk, simak daftar lengkapnya!

1. Kampoeng Heritage Kajoetangan, Kota Malang

Terletak di pusat Kota Malang, Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah kampung tertua yang sudah ada sejak abad ke-13. Kini, kawasan ini menjadi destinasi wisata heritage yang memadukan sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif.

Kampung ini terkenal karena koleksi bangunan tuanya yang berasal dari masa kolonial Belanda, bahkan ada yang dari masa Hindu-Buddha. Beberapa spot menarik termasuk makam Mbah Honggo, kuburan Tandak, langgar tua, pasar Talun, dan terowongan kuno.

Konsep wisata di sini sangat terstruktur, mencakup lima aspek: wisata bangunan tua, situs religi, kuliner dan perdagangan, eksplorasi sungai, dan event budaya.

Dengan lokasinya yang strategis, dekat dengan Balai Kota Malang dan Alun-alun, kampung ini menjadi pilihan menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kampung ini juga aktif melestarikan bangunan bersejarah dan menjadi pusat ekonomi kreatif masyarakat, menjadikannya desa wisata dengan nuansa sejarah yang sangat kuat.

2. Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Pasuruan

Di lereng pegunungan Bromo, Desa Wisata Edelweiss Wonokitri menghadirkan keindahan alam sekaligus edukasi konservasi bunga edelweiss.

Desa ini satu-satunya di Jawa Timur yang memiliki taman bunga edelweiss sebagai daya tarik utama. Bunga ini sakral bagi masyarakat Tengger dan hanya tumbuh di dataran tinggi.

Pengunjung bisa belajar cara budidaya edelweiss langsung dari warga lokal serta menikmati panorama pegunungan yang menakjubkan.

Fasilitasnya lengkap, mulai dari taman bunga, kafe terbuka, spot foto, hingga pusat oleh-oleh.

Meski akses jalannya cukup menanjak dan sering berkabut, pengalaman yang didapat sangat berharga dan autentik.

3. Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo, Situbondo

Masuk dalam 75 besar ADWI 2023, Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo dikenal karena semangat pluralisme dan keharmonisan antar umat beragama.

Desa ini juga menjadi penyangga Taman Nasional Baluran, sehingga memiliki potensi wisata alam yang luar biasa.

Keunikan budaya lokal sangat terasa, terutama melalui pertunjukan seni seperti Tari Jagat Kahuripan yang mencerminkan kolaborasi budaya Jawa, Osing, dan Bali.

Daya tarik Wonorejo tak hanya pada alamnya, tapi juga suasana desa yang sangat menjunjung nilai kebangsaan.

Menteri Pariwisata pun mengapresiasi desa ini sebagai contoh desa wisata dengan prinsip keberagaman dan pelestarian budaya yang kuat.

4. Desa Wisata Duren Sari Sawahan, Trenggalek

Bagi pecinta durian, desa ini adalah surga! Dikenal sebagai hutan durian terbesar se-Asia Tenggara, Duren Sari Sawahan menawarkan wisata edukatif dan kuliner.

Kawasan hutan duriannya mencapai 650 hektare dan sudah ditetapkan sebagai International Durio Forestry.

Selain wisata durian, pengunjung bisa mencoba outbound, river tubing, trekking, dan membatik dengan pewarna alami.

Desa ini juga menyediakan homestay dan paket wisata budaya, seperti bermain gamelan dan belajar membuat jamu tradisional.

Meski akses ke desa ini memerlukan waktu sekitar satu jam dari pusat Trenggalek, namun semua lelah akan terbayar tuntas.

5. Desa Wisata Ketapanrame, Mojokerto

Terletak di lereng Gunung Welirang, Desa Ketapanrame berada di ketinggian 700-1200 mdpl dengan udara sejuk dan pemandangan yang asri.

Wisata alamnya mencakup Air Terjun Dlundung, Taman Ghanjaran, dan Sawah Sumber Gempong yang juga berfungsi sebagai tempat edukasi pertanian.

Wisata budaya juga hidup di sini, dengan atraksi seperti pencak silat, bantengan, dan tari tradisional.

Desa ini juga menjalankan program edukatif seperti tanam padi, pembuatan jamu, dan pengelolaan sampah.

Dukungan dari program Desa BRILian menjadikan Ketapanrame sebagai desa yang kuat secara ekonomi dan wisata.

6. Desa Wisata Bira Tengah, Sampang

Terkenal karena Pantai Lon Malang, Desa Bira Tengah menawarkan pemandangan pantai yang memesona dengan pasir putih dan cemara berjejer seperti di Bali.

Desa ini juga menyuguhkan berbagai atraksi seperti banana boat, camping ground, hingga ATV mengelilingi pantai. Ada pula atraksi budaya seperti Rokat Tasek (petik laut) yang sarat makna spiritual dan tradisi lokal.

Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari area parkir, kafetaria, kamar mandi, hingga koneksi wifi. Tak heran jika desa ini meraih Juara 2 ADWI 2023 kategori Kelembagaan Desa Wisata dan CHSE.

7. Desa Wisata Sendang, Pacitan

Desa Sendang adalah primadona wisata air di Pacitan, dengan Pantai Klayar dan Pantai Ngiroboyo sebagai daya tarik utama.

Sungai Ngiroboyo yang tenang juga menawarkan aktivitas seru seperti susur sungai dan stand up paddleboarding.

Pengunjung bisa menikmati kuliner di restoran outdoor berbentuk perahu yang unik, sambil duduk di bawah pohon cemara.

Homestay khas Jawa juga tersedia, cocok untuk wisatawan yang ingin pengalaman menginap bernuansa budaya lokal.

Dengan dukungan komunitas dan semangat kreatif warga, Desa Sendang berhasil masuk 75 besar ADWI dan jadi juara harapan untuk kategori Digital dan Kreatif.

Itulah tujuh desa wisata terbaik di Jawa Timur yang bisa jadi destinasi liburan edukatif kamu tahun ini. Masing-masing desa punya daya tarik unik, mulai dari sejarah, budaya, kuliner, hingga petualangan alam. Menjelajahi desa wisata bukan hanya soal jalan-jalan, tapi juga belajar dan menghargai kekayaan lokal yang luar biasa.***