6 Fakta Swiss, Negara yang Kaya akan Budaya dan Inovasi

Saat mendengar kata “Swiss”, hal ikonik yang langsung terlintas di pikiran kita adalah keindahan alamnya, terutama pegunungan Alpen, danau-danau yang jernih, serta kota-kota yang bersih dan teratur. Produsen jam tangan mewah? Penghasil cokelat susu berkualitas tinggi? Ya, tentu saja, Swiss memang jagonya!

Seakan belum cukup, Swiss ingin menunjukkan sisi memukau lainnya yang membuat “Taman Bermain Eropa” ini benar-benar unik dan istimewa. Seperti enam fakta berikut ini. Simak, yuk!

1. Sejarah singkat Swiss

Sejarah Swiss berawal dari 1 Agustus 1291, saat tiga kanton pedesaan, yaitu Uri, Schwyz, dan Unterwalden, membentuk liga pertahanan Konfederasi Swiss. Aliansi ini kemudian berkembang seiring dengan bergabungnya kanton-kanton lain untuk melindungi kemerdekaan dari kekuatan asing, terutama Kekaisaran Romawi Suci dan Habsburg. Pada abad ke-16, pasukan Protestan sempat menyebabkan perpecahan agama di antara kanton-kanton, meski akhirnya mereka berhasil hidup berdampingan. Seabad setelahnya, Swiss pun mulai mengadopsi kebijakan netralitas bersenjata yang membantu mereka menghindari kehancuran dalam perang-perang besar Eropa.

Era Napoleon telah membawa invasi Prancis pada 1798, mereka membentuk Republik Helvetik yang terpusat, dengan  memperkenalkan konstitusi serta memberikan kedaulatan, hak-hak individu, dan persamaan hukum kepada rakyat. Namun, setelah Napoleon runtuh, Kongres Wina tahun 1815 mengembalikan otonomi kanton dan mengakui netralitas abadi Swiss. Hingga pada tahun 1848, Swiss pun membentuk konstitusi federal modern, yang menandai awal era kesuksesan dan kemakmuran negara tersebut.

2. Negara paling netral

Swiss dikenal sebagai negara yang paling netral karena menghindari konflik militer sejak abad ke-16 dan mempertahankan sikap independen dalam hubungan internasional sejak tahun 1815. Sepanjang Perang Dunia II pada abad ke-20, Swiss berhasil mempertahankan konsep “netralitas bersenjata” yang dihormati oleh negara-negara tetangganya. Ini berkat kombinasi kesiapan militer, persetujuan ekonomi, dan manuver diplomatik, hingga dikenal sebagai negara makmur, inovatif, dengan sistem demokrasi yang unik.

Netralitas Swiss telah memberi dampak positif bagi perekonomiannya dengan mendorong stabilitas politik dan memfasilitasi perdagangan internasional. Swiss mampu mempertahankan hubungan ekonomi dengan memastikan akses ke sumber daya dan pasar penting, yang fokus pada pengembangan industri, pertanian, komunikasi, dan sektor keuangan. Netralitas ini juga memungkinkannya memainkan peran mediasi antara pihak-pihak yang berkonflik.

3. Tidak memiliki pantai

Negara Swiss membentang sekitar 220 km dari utara ke selatan dan 350 km dari barat ke timur. Rupanya, Swiss tidak memiliki pantai, karena secara geografis negara ini “terkurung” oleh daratan, sehingga tidak memiliki akses langsung ke laut atau samudra. Letaknya di Eropa Tengah yang dikelilingi oleh negara Prancis di barat, Jerman di utara, Austria dan Liechtenstein di timur, serta Italia di selatan. 

Meskipun tidak memiliki pantai, tetapi Swiss terkenal dengan keindahan alamnya. Bentang alam Swiss dicirikan oleh medan pegunungan, termasuk Pegunungan Alpen dan Pegunungan Jura, serta dataran tinggi tengah di antara dua pegunungan tersebut yang dikenal sebagai Mittelland. Selain itu, Swiss juga memiliki banyak danau dan sungai besar yang jernih, seperti sungai Rhone yang mengalir ke Laut Mediterania dan sungai Rhine yang bermuara di Laut Utara.

4. Peran penting pegunungan alpen

Tidak hanya menampilkan panorama yang memukau, pegunungan Alpen juga memainkan peran penting dalam budaya dan ekonomi Swiss. Beberapa kesenian tradisional yang sering ditampilkan di pegunungan Alpen, seperti permainan alat musik Alphorn, serta tarian Schuhplattler yang dibawakan dengan pakaian tradisional dan diiringi musik yodeling. Ada juga tradisi tahunan Alpabzug yang merayakan kembalinya ternak dari padang rumput Alpen ke lembah setelah musim panas.

Keindahan pemandangan pegunungan Alpen yang luar biasa, termasuk puncak gletser dan danau, telah mendongkrak sektor pariwisata Swiss. Pegunungan Alpen sangat ideal untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) karena topografi pegunungannya yang tinggi, serta dan banyaknya danau dan gletser yang menyediakan sumber air berlimpah. Selain itu, pertanian tradisional di lembah Rhone yang luas juga menjadi area untuk budidaya sayur dan buah, terutama buah anggur.

5. Ada empat bahasa resmi

Salah satu ciri khas negara Swiss adalah keragaman bahasanya. Swiss memiliki empat bahasa resmi, yaitu bahasa Prancis, Jerman, Italia, dan Romansh. Romansh telah menjadi bahasa nasional sejak tahun 1938 dan diberi status semi-resmi pada tahun 1996.

Sebagian besar penduduk Swiss berbicara menggunakan bahasa Jerman, diikuti bahasa Prancis, bahasa Italia, dan kurang dari 1 persen yang menggunakan bahasa Romansh. Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Swiss-Jerman menggunakan dialek Swiss Jerman (Schweizerdeutsch) yang sangat berbeda dari bahasa Jerman standar yang digunakan di Jerman dan Austria.

Multibahasa dalam kehidupan sehari-hari di Swiss sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas politik, karena geografi budayanya yang beragam dan tempat bertemunya berbagai wilayah budaya utama di benua Eropa barat, yaitu Jerman, Prancis, dan Italia. Selain itu, Bahasa Inggris juga semakin penting, terutama dalam bisnis, pariwisata, dan sebagai bahasa penghubung antara penutur bahasa nasional yang berbeda.

6. Munculnya pembuatan jam tangan swiss

Kita semua tahu bahwa Swiss dikenal sebagai produsen jam tangan mewah di dunia. Namun, industri tersebut tidak berdiri begitu saja, lho, melainkan ada sejarahnya!

Pada abad ke-16, pengungsi Prancis dan Italia memperkenalkan pembuatan jam tangan ke Jenewa. Pada tahun 1541, seorang tokoh reformasi Protestan bernama John Calvin, memberlakukan larangan ketat terhadap pemakaian perhiasan mewah. Ia memaksa para pengrajin untuk mengembangkan keahlian mereka dari pembuatan perhiasan ke pembuatan benda-benda presisi lainnya, seperti jam tangan. Pada tahun 1601, Jenewa menjadi pusat pembuatan jam tangan yang unggul, bersama dengan didirikannya serikat pembuat jam tangan pertama di dunia. Hingga pada tahun 1790, Jenewa telah mengekspor lebih dari 60.000 jam tangan.

Seiring waktu, pengrajin jam tangan ini menyebar dari Jenewa ke wilayah pegunungan Jura, seperti Neuchatel. Industri ini mulai berinovasi dengan mengembangkan mekanisme yang lebih kecil, lebih akurat, dan lebih rumit. Patek Philippe adalah sebuah perusahaan manufaktur jam tangan mewah asal Swiss yang didirikan pada tahun 1839. Mereka dikenal sebagai salah satu produsen jam tangan tertua dan paling prestisius di dunia, dengan reputasi yang dibangun berdasarkan kualitas, keahlian, dan inovasi.

Beberapa fakta menarik ini hanya secuil gambaran tentang negara Swiss. Di balik kepopulerannya, tersimpan kekayaan budaya, inovasi yang tak henti, dan pemandangan menakjubkan yang menanti untuk dijelajahi. Swiss adalah bukti nyata bahwa harmoni bisa tercipta di tengah keberagaman, hingga melahirkan sebuah kisah sukses yang terus menarik perhatian dunia.

3 Kota Unik di Amerika Serikat, Tertarik untuk Berkunjung? 5 Destinasi di Karlovy Vary, Kota Unik dengan Sumber Air Panas di Ceko

Berasal dari Asia Tengah, Kenapa Tulip Justru Jadi Simbol Belanda?

Siapa yang tak terpikat oleh pesona bunga tulip? Bunga bermahkota anggun dengan warna-warna mencolok ini telah menjadi lambang tak tergantikan dari negeri kincir angin. Dibalik keelokannya, tulip menyimpan kisah yang jauh lebih dalam dan memukau. Si cantik ini bukanlah asli Belanda, melainkan pendatang dari dataran Kekaisaran Ottoman di Asia Tengah.

Dari hamparan ladang penuh warna hingga festival yang menyulap kota menjadi lautan bunga, tulip bukan sekadar tanaman, ia adalah simbol cinta, gairah, dan jati diri bangsa Belanda yang tak lekang oleh waktu. Melalui artikel ini akan ditelusuri sejarah panjang bunga tulip yang menjadi simbol nasional Belanda, padahal bunga ini sebenarnya berasal dari Asia Tengah. Beberapa sumber menyebut bahwa bunga cantik ini juga berasal dari Kazakhstan.

1. Bunga tulip pertama kali muncul di Pegunungan Tien Shan, Kazakhstan

Meskipun bunga tulip kini dikenal luas sebagai simbol nasional Belanda yang sangat ikonik, siapa sangka bahwa asal-usulnya sebenarnya bermula jauh di pegunungan Tien Shan yang menjulang tinggi di wilayah Kazakhstan. Di sinilah, sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, bunga tulip pertama kali muncul dan tumbuh liar, menandai Pegunungan Tien Shan sebagai salah satu habitat asli.

Selain Tien Shan, daerah pegunungan lain seperti Pamir dan Hindu Kush juga menjadi rumah bagi tulip liar yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, sebelum akhirnya menjadi bunga yang sangat dicintai dan dibudidayakan lebih luas di Eropa.

2. Kerajaan Ottoman berperan dalam penyebaran bunga tulip

Kerajaan Ottoman memainkan peran yang sangat vital dalam kisah perjalanan bunga tulip, yang bermula dari habitat aslinya di hamparan Asia Tengah yang luas, hingga menyebar ke jantung Anatolia, lalu merambah ke seluruh penjuru dunia termasuk Eropa yang penuh gemerlap.

Sejak abad ke-11, bangsa Turki sudah mulai mengasah keterampilan mereka dalam membudidayakan bunga tulip, mengikuti jejak bangsa Persia yang lebih dulu menaklukan seni merawat bunga menawan ini.

Pada masa pemerintahan Sultan Mehmed (1413-1421), kebun-kebun megah di Kerajaan Ottoman mulai dipenuhi barisan tulip yang anggun, dan di era Sultan Suleiman I, keindahan tulip bukan sekadar bunga, melainkan simbol kekaisaran dan kemewahan yang memikat.

Lebih dari sekadar hiasan, tulip merasuk ke dalam denyut seni dan budaya Islam Ottoman, ia menarik di lekuk kaligrafi, menghiasi berbagai karya seni dengan sentuhan keindahan abadi.

3. Pertama kali bunga tulip masuk ke Eropa dan Belanda

Bunga tulip pertama kali diperkenalkan ke benua Eropa pada pertengahan abad ke-16, tepatnya sekitar tahun 1554 hingga 1555. Momen bersejarah ini terjadi ketika Ogier Chiselain de Busbecq, yang menjabat sebagai duta besar Kekaisaran Austro-Hungaria di Kesultanan Utsmaniyah, melakukan sebuah perjalanan diplomatik penting ke Istanbul yang saat ini dikenal sebagai Turki.

Dalam perjalanan tersebut, ia membawa pulang bibit-bibit tulip yang sebelumnya belum dikenal di wilayah Eropa. Setiba di Wina, ibu kota Austria, bibit tulip ini mulai diperkenalkan kepada para pecinta tanaman dan kalangan istana.

Tidak lama kemudian, bibit tersebut dibawa lebih jauh ke Belanda, sebuah negeri yang kemudian menjadi saksi lahirnya kegemaran luas biasa terhadap bunga tulip. Di Belanda, tepatnya di Kebun Raya Universitas Leiden, seorang ahli botani ternama bernama Carolus Clusius mulai melakukan budidaya bunga tulip secara intensif.

Berkat usaha dan ketelitiannya, bunga tulip pun berkembang pesat dan akhirnya menjadi salah satu tanaman hias paling populer yang identik dengan budaya dan keindahan alam Belanda hingga saat ini.

4. Fenomena ‘Tulip Mania’ di Belanda

Fenomena Tulip Mania di Belanda pada abad ke-17 adalah kisah dramatis pertama tentang gelembung ekonomi yang meledak hebat dalam sejarah dunia. Di era 1630, harga umbi tulip melambung tak terkira, lalu jatuh dengan kejatuhan yang mengguncang jiwa banyak orang.

Awalnya, tulip ini hadir bak bintang baru, memesona masyarakat Belanda dengan warna dan corak yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Lebih dari sekadar bunga, tulip menjadi simbol status, lambang kemewahan dan kekayaan yang membuat siapa saja tergoda untuk memilikinya.

Di puncak kegilaan itu, sekitar 1636-1637, harga satu umbi tulip langka bisa menyamai harga rumah megah atau pabrik bir yang sedang naik daun. Orang-orang dari beurbagai lapisan, dari kelas menengah hingga yang kurang beruntung, rela menggadaikan segalanya demi membeli umbi ini, berhadap bisa meraih untung besar dari spekulasi yang tak berujung.

Namun, pada suatu pagi dingin di Februasi 1637, gelembung itu pecah. Harga umbi tulip merosot tajam, membawa kehancuran finansial bagi banyak jiwa yang sudah terlanjur terperangkap dalam mimpi sesaat. Meskipun begitu, dampaknya pada perekonomian Belanda secara keseluruhan tidaklah sebesar tragedi pribadi yang dialami banyak orang.

Kini, kisah Tulip Mania menjadi peringatan abadi, sebuah metafora tentang bagaimana nafsu dan keserakahan bisa menggelembungkan harga aset jauh melampaui nilai sebenarnya.

5. Tulip sebagai simbol nasional Belanda

Bunga tulip bukan sekadar bunga biasa di Belanda, ia adalah simbol nasional yang begitu melekat dengan sejarah dan budaya negara ini. Ceritanya dimulai pada abad ke-16, saat seorang duta besar Kekaisaran Romawi bernama Ogier Ghiselin de Busbecq membawa tulip dari Kesultanan Ottoman (Turki) ke tanah Belanda. Sejak saat itu, tulip langsung mencuri perhatian dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan warisan budaya Belanda.

Bunga tulip juga menyisihkan makna yang mendalam. Ia melambangkan cinta yang tulus abadi, kehangatan kasih sayang, semangat hidup, dan harapan yang terus menyala. Warna-warnanya pun punya cerita masing-masing, misalnya pada tulip merah yang melambangkan cinta romantis dan membawa, sementara tulip kuning menggambarkan persahabatan yang tulus.

Belanda sendiri dikenal dengan hamparan ladang tulip yang penuh warna-warni dan memukau. Setiap musim semi, festival bunga tulip diadakan dengan meriah, menarik ratusan ribu pengunjung dari seluruh penjuru dunia. Di sisi sejarah, tulip bahkan pernah jadi simbol kemakmuran dan kekayaan luar biasa, terutama di masa ‘Tulip Mania’ abad ke-17.

Demikian informasi seputar sejarah bunga tulip yang menjadi simbol nasional Belanda. Singkatnya, tulip bukan hanya ikon estetika yang memesona, tapi juga lambang budaya dan identitas nasional Belanda, mewakili sejarah panjang, keindahan memikat, dan nilai sosial yang mendalam.

5 Fakta Menarik Tulip Kakaktua, Berasal dari Mutasi Alami! 6 Fakta Unik Tulip, Benarkah Berasal dari Belanda?

5 Fakta Menarik Castel Sant’Angelo: Dulu Jadi Kediaman Paus!

Castel Sant’Angelo di Roma adalah salah satu bangunan bersejarah yang paling ikonik dan memiliki perjalanan panjang dalam sejarah kota tersebut. Berdiri megah di tepian Sungai Tiber, bangunan ini tidak hanya menjadi simbol arsitektur Romawi kuno, tetapi juga menyimpan banyak kisah menarik dari berbagai era. Dari awalnya sebagai mausoleum hingga berubah fungsi menjadi benteng, tempat tinggal paus, hingga museum saat ini, Castel Sant’Angelo layak disebut sebagai salah satu warisan budaya yang tak ternilai.

1. Awal Mula Sebagai Mausoleum Kaisar Hadrian

Bangunan Castel Sant’Angelo awalnya dibangun pada tahun 135 M atas perintah Kaisar Romawi Hadrian. Ia meminta agar sebuah mausoleum besar didirikan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi dirinya dan keluarga kekaisaran. Arsitek yang ditunjuk untuk proyek ini adalah Demeterianus, yang menggunakan bahan berkualitas seperti batu kapur Carrara dan campuran semen kuat khas Romawi.

Pembangunan dimulai ketika Hadrian masih hidup, namun selesainya baru pada tahun 139 M, setelah kematiannya. Mausoleum ini dikenal dengan nama Mole Adriana. Selain Kaisar Hadrian, makam ini juga menjadi tempat pemakaman bagi beberapa kaisar Romawi berikutnya, termasuk Antoninus Pius, Marcus Aurelius, Commodus, dan Septimius Severus.

Desain awal bangunan menyerupai Mausoleum Augustus tetapi dengan ukuran yang lebih besar. Bentuknya silinder dengan lapisan luar yang kokoh, serta taman dan patung-patung indah menghiasi area sekitarnya. Di tengah-tengah bangunan, terdapat ruang pemakaman bertingkat yang bisa menampung abu jenazah para anggota keluarga kerajaan.

2. Berubah Fungsi Menjadi Benteng Pertahanan

Sejak abad ke-3, Kekaisaran Romawi mulai menghadapi ancaman eksternal yang semakin serius. Untuk melindungi kota, Kaisar Aurelian membangun tembok pertahanan baru yang disebut Aurelian Walls. Mausoleum Hadrian pun dimasukkan ke dalam sistem pertahanan ini, sehingga struktur bangunan mengalami modifikasi signifikan.

Ketika Kaisar Honorius berkuasa pada awal abad ke-5, bangunan tersebut secara resmi menjadi bagian dari benteng kota. Selama masa ini, Castel Sant’Angelo digunakan sebagai benteng pertahanan dan penjara. Banyak peperangan dan invasi yang terjadi di sekitar Roma, dan bangunan ini menjadi salah satu benteng penting dalam menjaga keamanan kota.

3. Asal Usul Nama Castel Sant’Angelo

Nama Castel Sant’Angelo sendiri muncul pada akhir abad ke-6, tepatnya pada masa kepemimpinan Paus Gregorius I. Saat itu, Roma dilanda wabah penyakit yang sangat parah. Konon, Paus Gregorius I melakukan prosesi doa keliling kota, dan saat mendekati mausoleum, ia melihat visi malaikat St Michael yang sedang menutup pedangnya — pertanda bahwa wabah akan segera berakhir.

Atas kejadian tersebut, bangunan ini dinamakan Castel Sant’Angelo, atau Kastil Malaikat Suci. Pada abad ke-18, sebuah patung malaikat bersayap dipasang di puncak kastil sebagai pengingat legenda tersebut.

4. Tempat Tinggal Para Paus

Sejak abad ke-10, Castel Sant’Angelo berganti kepemilikan beberapa kali, hingga akhirnya menjadi milik Gereja Katolik Roma pada tahun 1365 di bawah Paus Urbanus V. Bangunan ini pun mengalami renovasi besar-besaran, terutama dalam hal fasilitas dan pertahanan.

Beberapa paus bahkan menjadikan Castel Sant’Angelo sebagai tempat tinggal mereka, termasuk Paus Nikolaus V yang merupakan yang pertama menjadikannya sebagai kediaman dan kantor kepausan. Paus Klemens VII menambahkan kamar mandi mewah, sementara Paus Alexander VI menghias kastil dengan lukisan-lukisan indah dan taman yang asri. Sayangnya, banyak dari dekorasi dan interior mewah tersebut hilang setelah adanya renovasi besar oleh Paus Urbanus VIII.

5. Jalan Rahasia Menuju Basilika Santo Petrus

Salah satu fitur unik dari Castel Sant’Angelo adalah Passetto di Borgo, yaitu jalur rahasia yang menghubungkan kastil dengan Basilika Santo Petrus. Jalur ini dibangun pada masa Paus Nikolaus III sebagai sarana penyelamatan darurat jika terjadi serangan atau kekacauan di kota.

Fungsi ini terbukti saat Paus Klemens VII berhasil melarikan diri dari serbuan tentara Prancis dalam peristiwa Penjarahan Roma pada tahun 1527. Dengan bantuan pasukan Garda Swiss, ia berhasil melintasi jalur rahasia ini menuju Castel Sant’Angelo.

6. Dari Barak Militer Hingga Museum Populer

Setelah menjadi tempat tinggal paus dan benteng pertahanan, Castel Sant’Angelo sempat berfungsi sebagai barak militer selama masa Unifikasi Italia. Namun sejak tahun 1901, bangunan ini resmi dibuka sebagai museum nasional dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di Roma.

Saat ini, pengunjung dapat menjelajahi ruang-ruang pemakaman kaisar, kamar-kamar bekas tempat tinggal paus, serta menikmati pemandangan kota Roma dari puncak kastil. Patung malaikat yang terkenal juga masih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dari seluruh dunia.

Castel Sant’Angelo bukan hanya sekadar bangunan tua, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah Roma, Gereja Katolik, dan peradaban manusia. Keberadaannya yang lestari hingga hari ini menjadikannya sebagai salah satu warisan dunia yang harus dilestarikan.

Pieters Park Transformasi Jadi Taman Badak, Komunitas Ulin Terkejut Temukan Daendles di Museum Sejarah Bandung


KABAR CIREBON

– Banyak objek wisata di Kota Bandung, Jawa Barat yang bisa dinikmati secara gratis dan bisa memberi edukasi. Selain taman-taman tematik yang indah, ada juga lokasi sejarah yang memberi tambahan wawasan bagi wisatawan.

Salah satu taman yang mudah dikunjungi tentu saja Taman Balai Kota Bandung. Lokasi wisata itu terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Sejatinya, kompleks Balai Kota Bandung sejak zaman penjajahan Belanda diciptakan sebagai taman dengan nama Pieters Park. Nama taman tersebut merupakan penghargaan kepada Asisten Residen Priangan, Pieter Sitjhoff.

Pieter dianggap berjasa dalam penataan wilayah Bandung pada masa kolonial Belanda. Namun, memasuki era Kemerdekaan Republik Indonesia, taman tersebut lebih dikenal sebagai Taman Balai Kota Bandung.

Setelah mengalami beberapa kali penataan, taman yang berada di bagian selatan Balai Kota Bandung itu terbagi menjadi dua bagian. Di sana ada Taman Dewi Sartika dan Taman Badak.

Penasaran dengan keindahan Taman Balai Kota Bandung, anggota Komunitas Tukang Ulin langsung melakukan kunjungan yang didampingi Ketua Komunitas Geowana, Kang Gan Gan Jatnika.

Tidak sekadar mengeksplore Taman Balai Kota Bandung, anggota Komunitas Tukang Ulin melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Museum Sejarah Kota Bandung di Jalan Aceh nomor 47.

Ketua Komunitas Tukang Ulin, Mom Yoke mengatakan, trip jalan kaki ke Taman Balai Kota Bandung bisa jadi refreshing bagi anggota dari rutinitas sehari-hari.

“Tiap hari masing-masing anggota mungkin punya kesibukan sendiri. Nah ajang jalan-jalan ke taman dan museum, selain bisa jadi wahana silaturahmi, juga untuk menambah pengetahuan tentang sejarah Bandung,” ucap Mom Yoke.

Mom Yoke mengakui, ada beberapa hal yang belum diketahui oleh anggota Komunitas Tukang Ulin, terkait penyebutan nama-nama taman, termasuk tokoh-tokoh yang ikut mewarnai perkembangan Kota Bandung.

Anggota Komunitas Tukang Ulin, lanjut Mom Yoke, akhirnya bersyukur bisa mendapat penjelasan dari Kang Gan Gan seputar sejarah Kota Bandung

Menganggap trip keliling di pusat Kota Bandung sangat penting, membuat Bu Damayanti mengajak anaknya untuk ikut serta. Menurut Bu Damayanti, justru dari muda harus mengenal beberapa sejarah.

“Tapi tidak ada salahnya, yang sudah berusia lanjut turut menambah pengetahuan sejarah Kota Bandung,” ucap Bu Damayanti yang diiyakan oleh Bu Mimin.

Saat tiba di Taman Balai Kota Bandung, anggota Komunitas Tukang Ulin langsung disuguhi oleh rindangnya sejumlah pohon yang berusia tua. Bahkan beberapa pohon memiliki diameter sangat lebar dan butuh tiga orang untuk bisa mendekapnya.

Pohon-pohon besar itu bisa ditemukan baik di Taman Dewi Sartika maupun Taman Badak. Saat menemukan Patung Dewi Sartika, anggota Komunitas Tukang Ulin langsung mengambil foto bersama.

Bu Ai, Bu Sanya, Bu Misdarwani, Bu Enny, Bu Erni, dan Bu Iyay merasa senang bisa ikut trip jalan kaki ke tempat-tempat bersejarah di Kota Bandung.

“Kita jadi tahu lebih detail, bagaimana sejarah yang mewarnai Kota Bandung. Juga jadi tahu siapa saja tokoh-tokoh yang telah menyumbangkan jasanya,” ujar Bu Sanya.

Bu Alice, Bu Anda, Bu Emma, Bu Eli, Bu Reina dan Bu Anin makin semangat ketika kunjungan berlanjut ke Museum Sejarah Kota Bandung.

Para anggota Komunitas Tukang Ulin saat itu mendapat tantangan untuk menebak 16 nama tokoh yang turut mewarnai perkembangan wilayah Bandung. Gambar tokoh-tokoh tersebut dipasang di ruang utama museum.

Selain tokoh nasional yang ternama, ada juga sosok Herman Willem Daendels dan Karel Albert Rudolf Bosscha yang dianggap turut mewarnai perkembangan wilayah Bandung.

Ketika Kang Gan Gan menyebut nama Ismail Marzuki dan Abdoel Moeis, beberapa anggota Komunitas Tukang Ulin agak terkejut.

Kang Gan Gan langsung saja menjelaskan Ismail Marzuki lewat karya lagu-lagunya banyak menyentuh Bandung. Demikin juga dengan Abdoel Moeis, merupakan sosok wartawan yang punya peran dalam perjalanan sejarah Bandung.

“Ibu-ibu di Bandung pasti mengenal nama Abdoel Moeis sebagai terminal angkot di Kebon Kelapa,” kata Kang Gan Gan yang disambut gelak tawa anggota Komunitas Tukang Ulin.***

Menjelajahi Tradisi dan Kehidupan Sarawak di Desa Budaya Indonesia


Osbali-  ,


Jakarta


– Selain terkenal dengan destinasi wisata alam, Kuching juga memiliki destinasi wisata budaya. Kampung Budaya Sarawak atau

Desa Budaya Sarawak

menawarkan perjalanan menyelami budaya Borneo yang beragam. Di sini wisatawan tidak hanya mengenal tapi juga menikmati interaksi langsung seperti pertunjukan musik dan tari, hingga kegiatan tradisional.

Terletak di pinggiran Kuching, tepatnya di seberang Pantai Damai. Museum hidup seluas 17 hektar ini mengajak wisatawan mengenali kehidupan dan tradisi berbagai suku asli Sarawak melalui bangunan replika dan kostum tradisional. Termasuk berbagai komunitas dan kelompok etnis, termasuk Bidayuh, Iban, Orang Ulu, Penan, Melanau, Melayu, dan Tionghoa.

Cara dan waktu terbaik mengunjungi Desa Budaya Sarawak

Cara menuju Desa Budaya Sarawak dapat menggunakan taksi, bus reguler dan shuttle dari berbagai tempat di Kuching, termasuk Santubong Resort T-Junction. Karena tempat wisata ini dibuka dari jam 9 pagi hingga 5 sore, jadi sangat disarankan untuk menjelajahinya dari pagi hari, setelah itu dapat menikmati pertunjukan dan pameran lainnya. Ada dua pertunjukan budaya setiap hari, pertunjukan pagi pukul 11:30 dan pertunjukan sore pukul 4 sore.

Dilansir dari

Travel and Leisure Asia

, tiket masuk untuk dewasa 95 ringgit

Malaysia

atau sekitar Rp 365 ribu, sedangkan anak-anak 60 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 253. Kalau membeli tiket secara online sebesar 90 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 346 ribu untuk dewasa dan anak-anak 57 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 219 ribu. Pembelian online dapat disertai dengan makan siang dengan harga tiket sebesar 125 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 481 ribu untuk dewasa, dan untuk anak-anak sebesar 88 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 338 ribu.

Waktu ideal untuk mengunjungi Desa Budaya Sarawak adalah antara bulan April dan September. Periode ini sangat cocok untuk kegiatan luar ruangan, cuaca juga sedang bersahabat. Tapi musim ini termasuk musim puncak turis, jadi tentu akan ada lebih banyak pengunjung.

Salah satu acara tahunan yang digelar selama periode tersebut adalah Rainforest World Music Festival. Tahun ini digelar pada akhir pekan 20-22 Juni 2025. Acara ini menampilkan pertunjukan seniman lokal dan internasional dari berbagai latar belakang budaya. Festival ini meliputi lokakarya, pertunjukan budaya, dan kios makanan, yang menciptakan perpaduan unik antara musik dan alam, seperti dikutip dari laman website

Dewan Pariwisata Sarawak
.

Atraksi Wisata di Desa Budaya Sarawak

Selama di Desa Budaya Sarawak, wisatawan dapat melihat beberapa tempat-tempat menarik. Mulai dari Taman Patung, yang menampilkan koleksi seni batu yang dibuat oleh berbagai pematung. Patung-patung ini dibuat selama International Stone Sculptors Camp yang diadakan pada tahun 2003, olehseniman lokal dan internasional yang memamerkan interpretasi mereka terhadap lingkungan sekitar dan pengalaman pribadi di desa tersebut.

Seperti disebutkan sebelumnya wisatawan dapat melihat berbagai bangunan rumah adat suku asli dan kelompok etnis. Mulai dari Rumah Panjang Bidayuh yang menawarkan koleksi artefak menarik yang digunakan oleh para pejuang Bidayuh. Di Rumah Panjang Iban yang menyimpan berbagai barang seperti drum, gong, perkakas, dan kostum tradisional.

Rumah Panjang Orang Ulu memamerkan berbagai alat musik yang indah, termasuk Sape dan Jatung Utang. Pengunjung dapat mengagumi manik-manik rumit yang dibuat oleh anggota masyarakat, serta topi berhias, tato tubuh, ukiran kayu, demonstrasi adu pedang, dan tiang totem.

Sedangkan di Rumah Tinggi Melanau, salah satu bangunan tertinggi di Desa Budaya Sarawak, memiliki dua lantai terpisah. Di lantai pertama, pengunjung dapat menjelajahi berbagai senjata, peralatan, dan perkakas yang digunakan oleh masyarakat Melanau. Lantai kedua berisi kamar tidur.

Rumah pertanian cina memiliki pintu berhiasm di mana kuil rumah tangga yang indah menjadi pusat perhatian. Dinding bercat putih dihiasi dengan rak-rak yang diisi dengan perkakas tradisional, mesin tenun, senjata, dan barang-barang dekoratif lainnya.

Salah satu

rumah tradisional

terindah di Desa Budaya Sarawak adalah Rumah Melayu, yang dibangun di atas panggung. Rumah berhias ini memiliki berbagai atraksi, seperti permainan papan tradisional, seni dinding, perkakas, dan banyak lagi. Pengunjung juga dapat menyaksikan anggota masyarakat menyiapkan hidangan tradisional di atas api unggun. Ada juga pondok-pondok Penan yang biasanya dibangun di dekat tanaman tapioka, yang merupakan makanan pokok masyarakat Penan.

Sementara untuk melihat berbagai pertunjukan budaya tari dan musik dapat mengunjungi gedung teater. Bagi para pemburu suvenir, ada toko kerajinan tangan yang menawarkan berbagai macam barang, mulai dari dekorasi rumah dan buku hingga perhiasan buatan tangan, mainan tradisional, tutup kepala, dan ukiran kayu.