Pieters Park Transformasi Jadi Taman Badak, Komunitas Ulin Terkejut Temukan Daendles di Museum Sejarah Bandung


KABAR CIREBON

– Banyak objek wisata di Kota Bandung, Jawa Barat yang bisa dinikmati secara gratis dan bisa memberi edukasi. Selain taman-taman tematik yang indah, ada juga lokasi sejarah yang memberi tambahan wawasan bagi wisatawan.

Salah satu taman yang mudah dikunjungi tentu saja Taman Balai Kota Bandung. Lokasi wisata itu terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Sejatinya, kompleks Balai Kota Bandung sejak zaman penjajahan Belanda diciptakan sebagai taman dengan nama Pieters Park. Nama taman tersebut merupakan penghargaan kepada Asisten Residen Priangan, Pieter Sitjhoff.

Pieter dianggap berjasa dalam penataan wilayah Bandung pada masa kolonial Belanda. Namun, memasuki era Kemerdekaan Republik Indonesia, taman tersebut lebih dikenal sebagai Taman Balai Kota Bandung.

Setelah mengalami beberapa kali penataan, taman yang berada di bagian selatan Balai Kota Bandung itu terbagi menjadi dua bagian. Di sana ada Taman Dewi Sartika dan Taman Badak.

Penasaran dengan keindahan Taman Balai Kota Bandung, anggota Komunitas Tukang Ulin langsung melakukan kunjungan yang didampingi Ketua Komunitas Geowana, Kang Gan Gan Jatnika.

Tidak sekadar mengeksplore Taman Balai Kota Bandung, anggota Komunitas Tukang Ulin melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Museum Sejarah Kota Bandung di Jalan Aceh nomor 47.

Ketua Komunitas Tukang Ulin, Mom Yoke mengatakan, trip jalan kaki ke Taman Balai Kota Bandung bisa jadi refreshing bagi anggota dari rutinitas sehari-hari.

“Tiap hari masing-masing anggota mungkin punya kesibukan sendiri. Nah ajang jalan-jalan ke taman dan museum, selain bisa jadi wahana silaturahmi, juga untuk menambah pengetahuan tentang sejarah Bandung,” ucap Mom Yoke.

Mom Yoke mengakui, ada beberapa hal yang belum diketahui oleh anggota Komunitas Tukang Ulin, terkait penyebutan nama-nama taman, termasuk tokoh-tokoh yang ikut mewarnai perkembangan Kota Bandung.

Anggota Komunitas Tukang Ulin, lanjut Mom Yoke, akhirnya bersyukur bisa mendapat penjelasan dari Kang Gan Gan seputar sejarah Kota Bandung

Menganggap trip keliling di pusat Kota Bandung sangat penting, membuat Bu Damayanti mengajak anaknya untuk ikut serta. Menurut Bu Damayanti, justru dari muda harus mengenal beberapa sejarah.

“Tapi tidak ada salahnya, yang sudah berusia lanjut turut menambah pengetahuan sejarah Kota Bandung,” ucap Bu Damayanti yang diiyakan oleh Bu Mimin.

Saat tiba di Taman Balai Kota Bandung, anggota Komunitas Tukang Ulin langsung disuguhi oleh rindangnya sejumlah pohon yang berusia tua. Bahkan beberapa pohon memiliki diameter sangat lebar dan butuh tiga orang untuk bisa mendekapnya.

Pohon-pohon besar itu bisa ditemukan baik di Taman Dewi Sartika maupun Taman Badak. Saat menemukan Patung Dewi Sartika, anggota Komunitas Tukang Ulin langsung mengambil foto bersama.

Bu Ai, Bu Sanya, Bu Misdarwani, Bu Enny, Bu Erni, dan Bu Iyay merasa senang bisa ikut trip jalan kaki ke tempat-tempat bersejarah di Kota Bandung.

“Kita jadi tahu lebih detail, bagaimana sejarah yang mewarnai Kota Bandung. Juga jadi tahu siapa saja tokoh-tokoh yang telah menyumbangkan jasanya,” ujar Bu Sanya.

Bu Alice, Bu Anda, Bu Emma, Bu Eli, Bu Reina dan Bu Anin makin semangat ketika kunjungan berlanjut ke Museum Sejarah Kota Bandung.

Para anggota Komunitas Tukang Ulin saat itu mendapat tantangan untuk menebak 16 nama tokoh yang turut mewarnai perkembangan wilayah Bandung. Gambar tokoh-tokoh tersebut dipasang di ruang utama museum.

Selain tokoh nasional yang ternama, ada juga sosok Herman Willem Daendels dan Karel Albert Rudolf Bosscha yang dianggap turut mewarnai perkembangan wilayah Bandung.

Ketika Kang Gan Gan menyebut nama Ismail Marzuki dan Abdoel Moeis, beberapa anggota Komunitas Tukang Ulin agak terkejut.

Kang Gan Gan langsung saja menjelaskan Ismail Marzuki lewat karya lagu-lagunya banyak menyentuh Bandung. Demikin juga dengan Abdoel Moeis, merupakan sosok wartawan yang punya peran dalam perjalanan sejarah Bandung.

“Ibu-ibu di Bandung pasti mengenal nama Abdoel Moeis sebagai terminal angkot di Kebon Kelapa,” kata Kang Gan Gan yang disambut gelak tawa anggota Komunitas Tukang Ulin.***

TOP 6 Destinasi Desa Wisata Terbaik Maluku Utara: Pengalaman Edukasi Seru untuk Buah Hati Tahun 2025


jasa SEO seoyandira.com –

– Maluku Utara tidak hanya menawarkan pesona alam yang menawan, tetapi juga menyimpan deretan desa wisata yang penuh keunikan dan kekayaan budaya. Bagi para orang tua yang sedang merencanakan liburan sekolah untuk buah hati, enam desa wisata ini bisa menjadi pilihan menarik.

Selain menyuguhkan keindahan alam tropis, destinasi ini juga sarat dengan nilai edukasi, mulai dari pelestarian budaya lokal hingga eksplorasi bawah laut yang mendebarkan.

Tahun 2025 menjadi momentum berkembangnya pariwisata berbasis masyarakat di Maluku Utara, dengan desa-desa wisata unggulan yang terus berinovasi dalam fasilitas dan aktivitas.

Dari pantai dengan pasir putih hingga pulau penuh sejarah bawah laut, berikut enam desa wisata terindah di Maluku Utara yang wajib masuk dalam agenda liburan keluarga Anda.

1. Desa Wisata Akebay Maitara, Permata Bahari di Pulau Tidore

Desa Wisata Akebay Maitara terletak di sisi utara Pulau Maitara, Kota Tidore Kepulauan. Pantai Akebay yang indah menjadi pusat daya tarik, lengkap dengan pemandangan Pulau Tidore yang megah dan matahari terbenam yang memesona. Rindangnya pohon Waru menambah kesejukan dan kenyamanan suasana.

Wisatawan dapat menikmati aktivitas snorkeling, diving, hingga camping di tepi pantai. Bagi yang menyukai ekowisata, terdapat area mangrove yang bisa dijelajahi untuk mengenal lebih dekat ekosistem pesisir.

Sejak 2020, Desa Maitara mengembangkan potensi wisata ini dengan dukungan Dana Desa dan dikelola secara profesional oleh Pokdarwis Akebay. Fasilitas seperti akses jalan setapak, MCK, kantin, hingga tembok penahan ombak telah dibangun untuk kenyamanan wisatawan.

Akses menuju desa ini pun mudah. Wisatawan bisa menyeberang dari Pelabuhan Bastiong di Ternate atau menggunakan speedboat dari Kota Tidore dengan tarif terjangkau. Desa ini juga masuk dalam 75 besar ADWI 2023, menandakan kualitas dan potensi yang patut diperhitungkan.

2. Desa Wisata Lelei Guraici, Maldives-nya Maluku Utara

Desa Lelei di Kepulauan Guraici, Halmahera Selatan, menawarkan lanskap tropis yang eksotis. Pantainya berpasir putih dengan air laut toska yang jernih, menjadikannya destinasi impian para pencinta wisata bahari.

Pulau-pulau di gugusan Guraici sebagian besar tidak berpenghuni, ideal untuk eksplorasi snorkeling dan diving. Taman lautnya kaya dengan terumbu karang dan bahkan memungkinkan pengunjung melihat pari manta secara langsung.

Desa Lelei menjadi pusat penginapan bagi wisatawan yang menjelajahi kawasan ini. Meskipun masih dalam kategori rintisan dan baru masuk 300 besar ADWI 2023, keindahan alaminya sudah menarik perhatian wisatawan lokal hingga mancanegara.

Akses menuju Lelei memerlukan sedikit perjuangan, karena kapal reguler hanya tersedia dua kali seminggu dari Ternate, namun keindahan yang disuguhkan dijamin sebanding dengan perjalanannya.

3. Desa Wisata Galo-Galo, Surga Bahari di Pulau Morotai

Galo-Galo di Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Pulau Morotai, dikenal dengan julukan “The Island of Heaven”. Desa ini menjadi pusat wisata bahari dan masuk dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Morotai.

Aktivitas utama di Galo-Galo adalah diving, snorkeling, dan menikmati panorama matahari terbit serta terbenam. Selain itu, desa ini juga aktif mengembangkan ekonomi kreatif lokal seperti musik, kerajinan tangan, dan festival budaya.

Homestay lokal yang menghadap laut memberikan pengalaman menginap yang unik. Pengunjung juga bisa menikmati hasil laut olahan warga, seperti ikan asin dan produk rumput laut yang dikemas secara menarik.

Desa Galo-Galo masuk dalam 500 besar ADWI 2023 dengan klasifikasi berkembang. Komitmen masyarakat untuk mengelola wisata secara mandiri menjadikan desa ini sebagai contoh pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang sukses.

4. Desa Wisata Posi-Posi Rao, Surga Para Peselancar

Posi-Posi Rao adalah desa wisata yang populer sebagai destinasi surfing kelas dunia. Berada di Pulau Rao, Morotai, desa ini memiliki ombak tinggi dan konsisten, setara dengan spot-spot terkenal seperti Hawaii atau Pantai Lakey Dompu.

Tidak hanya surfing, desa ini juga menawarkan kegiatan snorkeling, memancing, hingga wisata perahu keliling pulau. Suasana matahari pagi dan sore di Posi-Posi Rao memberikan latar sempurna untuk fotografi alam.

Dengan luas 17,34 km2 dan jumlah penduduk sekitar 1.200 jiwa, Posi-Posi Rao juga memiliki fasilitas homestay sebanyak 14 unit untuk wisatawan yang ingin menginap.

Sebagai bagian dari KEK Morotai, desa ini didukung oleh pemerintah untuk menjadi destinasi wisata strategis, lengkap dengan fasilitas penunjang dan pengelolaan yang profesional.

5. Desa Wisata Lapasi (Lako Akelamo), Pesona Budaya dan Laut Halmahera Barat

Lapasi, atau yang juga dikenal dengan nama Lako Akelamo, berada di Kecamatan Sahu, Halmahera Barat. Masuk 50 besar ADWI 2022, desa ini menyuguhkan kombinasi budaya yang kaya dan keindahan pantai berair jernih.

Pantai Lapasi dikenal dengan sunset yang dramatis dan air sebening kristal, sangat cocok untuk snorkeling. Tak hanya itu, kegiatan kemah dan susur sungai juga menjadi pilihan seru untuk keluarga.

Kekayaan budaya menjadi nilai utama di Lapasi. Tarian tradisional seperti Sasadu on the Sea, Soya-Soya, dan Dana-Dana masih rutin ditampilkan, dan pengunjung bisa belajar membuat kerajinan bambu, rotan, hingga mengenal Saloi—tas serbaguna khas petani perempuan.

Kuliner lokal seperti gohu ikan tuna, pisang mulu bebe, dan aer guraka juga memberikan pengalaman gastronomi khas Maluku yang sulit dilupakan.

6. Desa Wisata Pulau Kolorai, Surga Bawah Laut dan Sejarah Dunia

Pulau Kolorai di Morotai adalah destinasi wisata yang memikat dengan pantai pasir putih, laut biru jernih, dan dunia bawah laut yang luar biasa. Aktivitas utama di sini adalah diving dan snorkeling, dengan spot legendaris seperti Mitita Shark Point.

Uniknya, dasar laut di sekitar Kolorai menyimpan peninggalan Perang Dunia II seperti pesawat, kapal, dan tank yang kini dihiasi terumbu karang alami. Hal ini menjadikan wisata bawah laut tidak hanya indah tapi juga edukatif.

Interaksi dengan masyarakat nelayan menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menikmati kuliner laut segar seperti sashimi Kolorai dan sambal dabu-dabu khas setempat.

Homestay nyaman dengan fasilitas lengkap tersedia bagi wisatawan, dan akses ke Kolorai dapat ditempuh dengan speedboat sekitar 30 menit dari Pelabuhan Daruba.

Enam desa wisata terindah di Maluku Utara ini menunjukkan bahwa liburan tidak harus melulu ke kota besar atau tempat yang padat pengunjung. Dengan keindahan alam yang masih asri, kekayaan budaya, serta masyarakat yang ramah, destinasi-destinasi ini bisa menjadi alternatif liburan edukatif untuk keluarga di tahun 2025. Saatnya mengenalkan anak-anak pada alam, budaya lokal, dan keindahan bahari Indonesia yang tiada duanya.***

TOP 7 Destinasi Desa Wisata Unggulan di Jawa Timur: Liburan Edukatif yang Seru dan Menarik, Pilihan Tahun 2025


jasa SEO seoyandira.com –

– Liburan ke desa wisata kini jadi tren yang makin diminati, apalagi di Jawa Timur yang punya beragam destinasi edukatif, alami, dan budaya. Tak hanya menyuguhkan pemandangan indah, desa-desa ini juga menawarkan pengalaman belajar langsung dari kehidupan masyarakat lokal.

Cocok banget buat kamu yang ingin healing sambil menambah wawasan dan mengenal tradisi lokal yang unik.

Tahun 2025 ini, ada tujuh desa wisata terbaik di Jawa Timur yang sukses mencuri perhatian. Mulai dari yang berbasis sejarah hingga desa dengan wisata bunga abadi, semuanya punya keunggulan tersendiri. Yuk, simak daftar lengkapnya!

1. Kampoeng Heritage Kajoetangan, Kota Malang

Terletak di pusat Kota Malang, Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah kampung tertua yang sudah ada sejak abad ke-13. Kini, kawasan ini menjadi destinasi wisata heritage yang memadukan sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif.

Kampung ini terkenal karena koleksi bangunan tuanya yang berasal dari masa kolonial Belanda, bahkan ada yang dari masa Hindu-Buddha. Beberapa spot menarik termasuk makam Mbah Honggo, kuburan Tandak, langgar tua, pasar Talun, dan terowongan kuno.

Konsep wisata di sini sangat terstruktur, mencakup lima aspek: wisata bangunan tua, situs religi, kuliner dan perdagangan, eksplorasi sungai, dan event budaya.

Dengan lokasinya yang strategis, dekat dengan Balai Kota Malang dan Alun-alun, kampung ini menjadi pilihan menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kampung ini juga aktif melestarikan bangunan bersejarah dan menjadi pusat ekonomi kreatif masyarakat, menjadikannya desa wisata dengan nuansa sejarah yang sangat kuat.

2. Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Pasuruan

Di lereng pegunungan Bromo, Desa Wisata Edelweiss Wonokitri menghadirkan keindahan alam sekaligus edukasi konservasi bunga edelweiss.

Desa ini satu-satunya di Jawa Timur yang memiliki taman bunga edelweiss sebagai daya tarik utama. Bunga ini sakral bagi masyarakat Tengger dan hanya tumbuh di dataran tinggi.

Pengunjung bisa belajar cara budidaya edelweiss langsung dari warga lokal serta menikmati panorama pegunungan yang menakjubkan.

Fasilitasnya lengkap, mulai dari taman bunga, kafe terbuka, spot foto, hingga pusat oleh-oleh.

Meski akses jalannya cukup menanjak dan sering berkabut, pengalaman yang didapat sangat berharga dan autentik.

3. Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo, Situbondo

Masuk dalam 75 besar ADWI 2023, Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo dikenal karena semangat pluralisme dan keharmonisan antar umat beragama.

Desa ini juga menjadi penyangga Taman Nasional Baluran, sehingga memiliki potensi wisata alam yang luar biasa.

Keunikan budaya lokal sangat terasa, terutama melalui pertunjukan seni seperti Tari Jagat Kahuripan yang mencerminkan kolaborasi budaya Jawa, Osing, dan Bali.

Daya tarik Wonorejo tak hanya pada alamnya, tapi juga suasana desa yang sangat menjunjung nilai kebangsaan.

Menteri Pariwisata pun mengapresiasi desa ini sebagai contoh desa wisata dengan prinsip keberagaman dan pelestarian budaya yang kuat.

4. Desa Wisata Duren Sari Sawahan, Trenggalek

Bagi pecinta durian, desa ini adalah surga! Dikenal sebagai hutan durian terbesar se-Asia Tenggara, Duren Sari Sawahan menawarkan wisata edukatif dan kuliner.

Kawasan hutan duriannya mencapai 650 hektare dan sudah ditetapkan sebagai International Durio Forestry.

Selain wisata durian, pengunjung bisa mencoba outbound, river tubing, trekking, dan membatik dengan pewarna alami.

Desa ini juga menyediakan homestay dan paket wisata budaya, seperti bermain gamelan dan belajar membuat jamu tradisional.

Meski akses ke desa ini memerlukan waktu sekitar satu jam dari pusat Trenggalek, namun semua lelah akan terbayar tuntas.

5. Desa Wisata Ketapanrame, Mojokerto

Terletak di lereng Gunung Welirang, Desa Ketapanrame berada di ketinggian 700-1200 mdpl dengan udara sejuk dan pemandangan yang asri.

Wisata alamnya mencakup Air Terjun Dlundung, Taman Ghanjaran, dan Sawah Sumber Gempong yang juga berfungsi sebagai tempat edukasi pertanian.

Wisata budaya juga hidup di sini, dengan atraksi seperti pencak silat, bantengan, dan tari tradisional.

Desa ini juga menjalankan program edukatif seperti tanam padi, pembuatan jamu, dan pengelolaan sampah.

Dukungan dari program Desa BRILian menjadikan Ketapanrame sebagai desa yang kuat secara ekonomi dan wisata.

6. Desa Wisata Bira Tengah, Sampang

Terkenal karena Pantai Lon Malang, Desa Bira Tengah menawarkan pemandangan pantai yang memesona dengan pasir putih dan cemara berjejer seperti di Bali.

Desa ini juga menyuguhkan berbagai atraksi seperti banana boat, camping ground, hingga ATV mengelilingi pantai. Ada pula atraksi budaya seperti Rokat Tasek (petik laut) yang sarat makna spiritual dan tradisi lokal.

Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari area parkir, kafetaria, kamar mandi, hingga koneksi wifi. Tak heran jika desa ini meraih Juara 2 ADWI 2023 kategori Kelembagaan Desa Wisata dan CHSE.

7. Desa Wisata Sendang, Pacitan

Desa Sendang adalah primadona wisata air di Pacitan, dengan Pantai Klayar dan Pantai Ngiroboyo sebagai daya tarik utama.

Sungai Ngiroboyo yang tenang juga menawarkan aktivitas seru seperti susur sungai dan stand up paddleboarding.

Pengunjung bisa menikmati kuliner di restoran outdoor berbentuk perahu yang unik, sambil duduk di bawah pohon cemara.

Homestay khas Jawa juga tersedia, cocok untuk wisatawan yang ingin pengalaman menginap bernuansa budaya lokal.

Dengan dukungan komunitas dan semangat kreatif warga, Desa Sendang berhasil masuk 75 besar ADWI dan jadi juara harapan untuk kategori Digital dan Kreatif.

Itulah tujuh desa wisata terbaik di Jawa Timur yang bisa jadi destinasi liburan edukatif kamu tahun ini. Masing-masing desa punya daya tarik unik, mulai dari sejarah, budaya, kuliner, hingga petualangan alam. Menjelajahi desa wisata bukan hanya soal jalan-jalan, tapi juga belajar dan menghargai kekayaan lokal yang luar biasa.***

Inilah 5 Kota Terbaik Jawa Timur untuk Destinasi Wisata dan Staycation 2025


jasa SEO seoyandira.com –

Jawa Timur dikenal sebagai provinsi dengan destinasi wisata yang sangat beragam dan selalu menarik untuk dijelajahi. Mulai dari wisata alam, budaya, hingga kuliner, semua tersedia.

Tahun 2025 diprediksi jadi waktu yang tepat untuk menjelajahi kota-kota terbaik di Jawa Timur, baik untuk liburan panjang maupun staycation singkat.

Beberapa kota bahkan mengalami peningkatan fasilitas wisata dan akomodasi, menjadikannya semakin nyaman untuk dikunjungi.

Berikut ini lima kota yang wajib masuk daftar perjalanan kamu di tahun 2025 jika ingin menjelajahi Jawa Timur lebih dalam.


1. Kota Batu: Udara Sejuk dan Wisata Keluarga yang Lengkap

Kota Batu sering dijuluki “Swiss kecil” Indonesia karena lokasinya di pegunungan dengan udara sejuk sepanjang tahun.

Kamu bisa mengunjungi Jatim Park 1, 2, dan 3 yang cocok untuk liburan bareng keluarga atau teman dekat.

Jangan lewatkan juga Museum Angkut yang ikonik dan penuh spot foto Instagramable untuk koleksi liburan kamu.

Batu Night Spectacular dan Taman Rekreasi Selecta pun menambah pengalaman seru saat malam hari.


2. Banyuwangi: Eksotisme Alam dan Budaya Lokal yang Kuat

Banyuwangi jadi destinasi favorit untuk pencinta alam karena punya banyak pantai indah dan Gunung Ijen yang melegenda.

Kawah Ijen dengan api birunya sangat populer di kalangan wisatawan lokal dan mancanegara setiap tahunnya.

Tak hanya itu, budaya lokal Banyuwangi seperti tari Gandrung juga menarik untuk dinikmati wisatawan yang suka seni.

Eco-resort yang tersebar di berbagai lokasi bikin staycation di Banyuwangi terasa tenang dan menyegarkan.


3. Mojokerto: Wisata Sejarah dan Alam yang Seru

Mojokerto punya daya tarik sejarah kuat karena merupakan pusat dari Kerajaan Majapahit di masa lalu.

Kamu bisa mengunjungi Candi Trowulan, Museum Majapahit, serta melihat patung Buddha tidur terbesar di Indonesia.

Buat pencinta alam, Gunung Penanggungan jadi lokasi pendakian singkat dengan panorama yang menakjubkan.

Pemandian air panas Pacet juga bisa jadi tempat relaksasi setelah seharian berwisata keliling kota.


4. Surabaya: Modern, Bersejarah, dan Pusat Hiburan

Sebagai Ibu Kota Provinsi, Surabaya menawarkan wisata sejarah sekaligus kenyamanan kota metropolitan yang serba ada.

Kamu bisa mengunjungi Monumen Kapal Selam, Tugu Pahlawan, dan kawasan Kota Tua yang penuh nilai historis.

Pantai Kenjeran juga cocok untuk santai sore, sementara kuliner Surabaya seperti rujak cingur wajib kamu coba.

Pusat perbelanjaan besar dan hotel mewah menjadikan Surabaya pilihan sempurna untuk staycation urban.


5. Probolinggo: Pintu Masuk Menuju Gunung Bromo

Probolinggo dikenal sebagai gerbang utama menuju salah satu ikon wisata Indonesia, yaitu Gunung Bromo.

Kamu bisa menikmati sunrise di Bukit Penanjakan dan pemandangan kawah Bromo yang sangat menakjubkan.

Air Terjun Madakaripura juga jadi destinasi favorit yang menawarkan suasana alami dan menyegarkan.

Pantai-pantai seperti Pantai Bentar memberikan nuansa wisata bahari yang cocok untuk melengkapi perjalananmu.

Kelima kota ini menawarkan keunikan masing-masing, mulai dari alam, sejarah, budaya, hingga hiburan modern.

Tahun 2025 adalah waktu yang pas untuk merencanakan liburan seru atau sekadar staycation singkat di Jawa Timur.

Dengan ragam destinasi dan fasilitas wisata yang terus berkembang, pengalaman berlibur dijamin makin menyenangkan.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk masukkan kota-kota ini ke dalam wishlist liburan kamu tahun ini!***

Menjelajahi Tradisi dan Kehidupan Sarawak di Desa Budaya Indonesia


Osbali-  ,


Jakarta


– Selain terkenal dengan destinasi wisata alam, Kuching juga memiliki destinasi wisata budaya. Kampung Budaya Sarawak atau

Desa Budaya Sarawak

menawarkan perjalanan menyelami budaya Borneo yang beragam. Di sini wisatawan tidak hanya mengenal tapi juga menikmati interaksi langsung seperti pertunjukan musik dan tari, hingga kegiatan tradisional.

Terletak di pinggiran Kuching, tepatnya di seberang Pantai Damai. Museum hidup seluas 17 hektar ini mengajak wisatawan mengenali kehidupan dan tradisi berbagai suku asli Sarawak melalui bangunan replika dan kostum tradisional. Termasuk berbagai komunitas dan kelompok etnis, termasuk Bidayuh, Iban, Orang Ulu, Penan, Melanau, Melayu, dan Tionghoa.

Cara dan waktu terbaik mengunjungi Desa Budaya Sarawak

Cara menuju Desa Budaya Sarawak dapat menggunakan taksi, bus reguler dan shuttle dari berbagai tempat di Kuching, termasuk Santubong Resort T-Junction. Karena tempat wisata ini dibuka dari jam 9 pagi hingga 5 sore, jadi sangat disarankan untuk menjelajahinya dari pagi hari, setelah itu dapat menikmati pertunjukan dan pameran lainnya. Ada dua pertunjukan budaya setiap hari, pertunjukan pagi pukul 11:30 dan pertunjukan sore pukul 4 sore.

Dilansir dari

Travel and Leisure Asia

, tiket masuk untuk dewasa 95 ringgit

Malaysia

atau sekitar Rp 365 ribu, sedangkan anak-anak 60 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 253. Kalau membeli tiket secara online sebesar 90 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 346 ribu untuk dewasa dan anak-anak 57 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 219 ribu. Pembelian online dapat disertai dengan makan siang dengan harga tiket sebesar 125 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 481 ribu untuk dewasa, dan untuk anak-anak sebesar 88 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 338 ribu.

Waktu ideal untuk mengunjungi Desa Budaya Sarawak adalah antara bulan April dan September. Periode ini sangat cocok untuk kegiatan luar ruangan, cuaca juga sedang bersahabat. Tapi musim ini termasuk musim puncak turis, jadi tentu akan ada lebih banyak pengunjung.

Salah satu acara tahunan yang digelar selama periode tersebut adalah Rainforest World Music Festival. Tahun ini digelar pada akhir pekan 20-22 Juni 2025. Acara ini menampilkan pertunjukan seniman lokal dan internasional dari berbagai latar belakang budaya. Festival ini meliputi lokakarya, pertunjukan budaya, dan kios makanan, yang menciptakan perpaduan unik antara musik dan alam, seperti dikutip dari laman website

Dewan Pariwisata Sarawak
.

Atraksi Wisata di Desa Budaya Sarawak

Selama di Desa Budaya Sarawak, wisatawan dapat melihat beberapa tempat-tempat menarik. Mulai dari Taman Patung, yang menampilkan koleksi seni batu yang dibuat oleh berbagai pematung. Patung-patung ini dibuat selama International Stone Sculptors Camp yang diadakan pada tahun 2003, olehseniman lokal dan internasional yang memamerkan interpretasi mereka terhadap lingkungan sekitar dan pengalaman pribadi di desa tersebut.

Seperti disebutkan sebelumnya wisatawan dapat melihat berbagai bangunan rumah adat suku asli dan kelompok etnis. Mulai dari Rumah Panjang Bidayuh yang menawarkan koleksi artefak menarik yang digunakan oleh para pejuang Bidayuh. Di Rumah Panjang Iban yang menyimpan berbagai barang seperti drum, gong, perkakas, dan kostum tradisional.

Rumah Panjang Orang Ulu memamerkan berbagai alat musik yang indah, termasuk Sape dan Jatung Utang. Pengunjung dapat mengagumi manik-manik rumit yang dibuat oleh anggota masyarakat, serta topi berhias, tato tubuh, ukiran kayu, demonstrasi adu pedang, dan tiang totem.

Sedangkan di Rumah Tinggi Melanau, salah satu bangunan tertinggi di Desa Budaya Sarawak, memiliki dua lantai terpisah. Di lantai pertama, pengunjung dapat menjelajahi berbagai senjata, peralatan, dan perkakas yang digunakan oleh masyarakat Melanau. Lantai kedua berisi kamar tidur.

Rumah pertanian cina memiliki pintu berhiasm di mana kuil rumah tangga yang indah menjadi pusat perhatian. Dinding bercat putih dihiasi dengan rak-rak yang diisi dengan perkakas tradisional, mesin tenun, senjata, dan barang-barang dekoratif lainnya.

Salah satu

rumah tradisional

terindah di Desa Budaya Sarawak adalah Rumah Melayu, yang dibangun di atas panggung. Rumah berhias ini memiliki berbagai atraksi, seperti permainan papan tradisional, seni dinding, perkakas, dan banyak lagi. Pengunjung juga dapat menyaksikan anggota masyarakat menyiapkan hidangan tradisional di atas api unggun. Ada juga pondok-pondok Penan yang biasanya dibangun di dekat tanaman tapioka, yang merupakan makanan pokok masyarakat Penan.

Sementara untuk melihat berbagai pertunjukan budaya tari dan musik dapat mengunjungi gedung teater. Bagi para pemburu suvenir, ada toko kerajinan tangan yang menawarkan berbagai macam barang, mulai dari dekorasi rumah dan buku hingga perhiasan buatan tangan, mainan tradisional, tutup kepala, dan ukiran kayu.